(Sambungan dari materi sebelumnya)
SHALATUL LAIL
Shalat Sunnah Lail ialah : Shalat-shalat Sunnah
yang dikerjakan pada malam hari selain Ba'diyah 'Isya'. Adapun waktunya ialah :
Sehabis shalat 'Isya' hingga akhir waktu 'Isya' sebelum masuk waktu Shubuh. Dan
shalat Lail itu boleh dikerjakan sebelum maupun sesudah tidur.
Macam-macamnya :
A. Shalat
Sunnah Tarawih.
C. Shalat
Sunnah Witir.
B. Shalat
Sunnah Tahajjud.
D. Shalat
Sunnah Iftitah.
C. Shalat Sunnah Witir
Shalat sunnah witir ialah shalat sunnah lail
yang dikerjakan dengan bilangan rakaat yang ganjil (witir = ganjil)
Dari 'Ali RA, ia berkata : Telah
bersabda Rasulullah SAW, "Berwitirlah kamu hai ahli Qur'an karena
sesungguhnya Allah itu witir/tunggal, Ia suka kepada (shalat) witir". [Diriwayatkan oleh Khamsah dan disahkan oleh
Ibnu Khuzaimah]
Waktunya :
Pada setiap malam, baik di dalam maupun diluar
Ramadlan, boleh dikerjakan di awwal, pertengahan, ataupun diakhir malam, baik
sebelum maupun sesudah tidur, kesemuanya itu pernah dicontohkan oleh Rasulullah
SAW :
Dari 'Aisyah RA, ia berkata,
"Dalam seluruh (bagian) malam Rasulullah SAW pernah mengerjakan witir, di
permulaan malam, dipertengahannya, dan di akhirnya, hingga witirnya selesai
pada waktu sahur".
[HR. Al Jama'ah]
Dari Jabir RA, ia berkata, telah
bersabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa khawatir tidak akan bangun pada
akhir malam, maka bolehlah berwitir pada awwal malam. Dan barangsiapa
berkeyakinan mampu bangun di akhir malam, maka hendaklah mengerjakan witir pada
saat itu, karena shalat di akhir malam itu disaksikan dan yang demikian itu
lebih utama". [HR.
Muslim juz 1, hal. 520].
Bilangan Raka'at serta Cara Pelaksanaannya
a. Satu rakaat,
Dari Ibnu
'Umar bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang
shalat malam itu. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Shalat malam itu 2
raka'at 2 raka'at. Maka apabila seseorang diantara kamu khawatir masuk Shubuh
hendaklah shalat witir 1 raka'at. Yang seraka'at itu mewitirkan untuk shalat
yang telah dikerjakan".
[HR. Muslim juz 1, hal. 516]
b. Tiga Rakaat,
Bila melaksanakan 3 rakaat, maka harus dengan satu tasyahud di rakaat yang
akhir, lalu salam, sebagaimana riwayat di bawah ini 'Aisyah RA berkata, "Rasulullah
SAW pernah berwitir dengan 3 raka'at, tidak mengadakan pemisahan antaranya
(mengerjakannya dengan sekali salam)". [HR. Ahmad dan An-Nasai] Adapun dalam lafadh Nasai : Adalah beliau
tidak salam pada dua rekaat dalam shalat witir tersebut. [Nailul Authar juz 3
hal. 40].
Dan tidak diperkenankan shalat witir yang 3 itu
dengan 2 raka'at salam, kemudian disambung dengan 1 rakaat lalu salam. Hal ini
menyalahi riwayat 'Aisyah di atas dan juga menyalahi arti witir itu sendiri,
karena witir itu artinya ganjil, sedang 2 itu genap, jadi tidak dapat dikatakan
witir. Dan juga kita tidak diperkenankan shalat 3 raka'at tersebut dengan 2
tasyahud 1 salam. Sebab ini menyerupai Maghrib, yang demikian ini dilarang oleh
Nabi SAW sebagaimana hadits di bawah ini. Sabda Nabi SAW :
Jangan kamu shalat witir 3 rekaat,
(tetapi) shalatlah witir 5 atau 7, dan janganlah kamu menyerupai dengan shalat
Maghrib". [HR.
Daruquthni juz 2, hal, 24].
Keterangan :
Dalam hadits ini, Rasulullah SAW melarang kita
shalat witir 3 rekaat dan memerintahkan untuk shalat dengan 5 rekaat atau 7
rekaat. Sedang hadits-hadits lain menerangkan bahwa Rasulullah SAW sendiri
mengerjakan shalat witir 3 rekaat. Maka dari kedua macam hadits tersebut diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa : "Yang
dilarang mengerjakan shalat witir 3 rekaat itu
adalah shalat witir yang menyerupai shalat Maghrib, sedang shalat witir 3
rekaat yang tidak serupa dengan shalat Maghrib tidak dilarang, bahkan dikerjakan
oleh Rasulullah SAW sendiri".
Adapun bentuk keserupaan itu ialah : Dengan 2
tasyahud satu salam. Maka supaya tidak menyerupai shalat Maghrib hendaklah
shalat witir 3 rekaat tersebut dikerjakan dengan 3 rekaat sekaligus dengan satu
tasyahud di akhir rakaat dan satu salam.
c. 5 rekaat dengan satu tasyahud di rakaat yang terakhir
kemudian salam.
Berdasar riwayat sebagai berikut :
‘Aisyah RA berkata, "Rasulullah
SAW shalat di malam hari 13 rekaat, dari 13 rekaat itu beliau shalat witir 5
rekaat. Beliau tidak duduk (attahiyat) pada sesuatu rekaat dari yang 5 ini,
melainkan pada akhirnya". [HR. Bukhari dan
Muslim, dalam Nailul Authar juz 3, hal. 42].
d. 7 rekaat dengan 2 tasyahud di rekaat 6 dan 7 lalu salam.
Berdasar riwayat sebagai berikut :
Dari Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah
SAW setelah lanjut usia dan lemah badannya, beliau berwitir dengan 7 rekaat dan
tidak duduk kecuali pada rekaat yang ke 6, kemudian berdiri tanpa salam lalu
menyelesaikan rekaat yang ke 7 kemudian salam dengan satu k.ali salam. [HR. Ibnu Hazm, dalam Al-Muhalla juz 3, hal. 45].
e. 9 rekaat dengan 2 tasyahud di rekaat yang ke 8 dan ke 9
setelah itu salam.
Berdasar riwayat sebagai berikut :
Dari Sa’id bin Hisyam, bahwasanya ia
bertanya kepada 'Aisyah, "(Ya ‘Aisyah), beritahukanlah kepadaku tentang
shalat witir Rasulullah SAW". Jawab 'Aisyah, "Kami biasa menyediakan
penggosok gigi dan air wudlu bagi Rasulullah SAW, lalu beliau bangun malam pada
waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian beliau menggosok gigi dan berwudlu lalu shalat
(witir) sembilan rekaat dan beliau tidak duduk (attahiyat) melainkan pada
rekaat yang ke delapan, lalu beliau menyebut, memuji dan berdoa kepada Allah,
kemudian beliau berdiri dengan tidak mengucap salam, berdiri shalat (rekaat)
yang ke sembilan, kemudian beliau duduk (attahiyat) menyebut, memuji dan berdoa
kepada Allah, kemudian beliau mengucap salam sehingga terdengar oleh kami.
Setelah itu beliau shalat 2 rekaat dengan duduk. Yang demikian itu jadi 11 rekaat
hai anakku". [HR.
Muslim juz 1, hal. 513].
Dan kita dilarang mengerjakan 2 kali shalat
witir pada satu malam Dari
Thalq bin Ali, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tidak
ada dua witir pada satu malam". [HR. Ahmad, Nasai, Tirmidzi dan dishahkan oleh Ibnu Hibban].
f. Bacaan sesudah shalat witir.
Menurut riwayat Nasai, Rasulullah SAW setelah
shalat witir, beliau membaca Subhaanal
Malikil Qudduus 3 kali. Dari Qatadah dari Zurarah dari ‘Abdur
Rahman bin Abza dari Rasulullah SAW,
biasanya beliau SAW di dalam shalat witir membaca surat Al-A’laa, Al-Kaafirun
dan Al-Ikhlash. Setelah selesai lalu beliau mengucapkan, “Subhaanal Malikil Qudduus 3 kali, dan beliau memanjangkan pada bacaan
yang ketiga”. [HR.
Nasaaiy juz 3, hal. 247]
Dan menurut riwayat Thabrani, setelah bacaan
tersebut ada tambahan “Rabbul
malaaikati war ruuh”, (namun tambahan
ini tidak shahih, karena dalam
sanadnya ada perawi bernama ‘Isa bin Yuunus, yang tidak diketahui jarh
- ta’dilnya).
Adapun bacaan “Alloohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa, fa’fu ‘annii” itu adalah bacaan bila mengetahui Lailatul
Qadr, sebagaimana riwayat berikut :
Dari ‘Aisyah, ia berkata : Aku
bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau apabila aku mengetahui
bahwa malam itu malam Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca ?”. Beliau
bersabda, “Bacalah Alloohumma
innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha
Pemaaf, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku)”. [HR. Tirmidzi juz 5, hal. 195, no. 3580]
Lafadh tersebut juga diriwayatan oleh Ahmad juz
9 hal. 526, juz 9 hal. 547 dan juz 10, hal. 24, juga diriwayatkan oleh Ibnu
Majah juz 2, hal. 1265, no. 3850. Namun dalam ‘Aridlatul Ahwadzi dengan lafadh
: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha
Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah
kesalahanku. [HR.
Tirmidzi, dalam ‘Aridlotul Ahwadzi juz 13, hal. 42, no. 3513]
(BERSAMBUNG....)
sumber : brosur mta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar